Can’t Cry Hard Enough

I’m gonna live my life
Like every day’s the last
Without a simple goodbye
It all goes by so fast

And now that you’ve gone
I can’t cry hard enough
No, I can’t cry hard enough
For you to hear me now

Gonna open my eyes
And see for the first time
I let go of you like
A child letting go of his kite

There it goes, up in the sky
There it goes, beyond the clouds
For no reason why
I can’t cry hard enough
No, I can’t cry hard enough
For you to hear me now

Gonna look back in vain
And see you standing there
When all that remains
Is an empty chair

And now that you’ve gone
I can’t cry hard enough
No, I can’t cry hard enough
For you to hear me now

There it goes, up in the sky
There it goes, beyond the clouds
For no reason why
I can’t cry hard enough
No, I can’t cry hard enough
For you to hear me now

And now that you’ve gone
I can’t cry hard enough
No, I can’t cry hard enough
For you to hear me now

Leave a comment »

Menjadi Egois, boleh kah?

“If someone seriously wants to be part of your life; they should seriously make an effort to be in it.”

Kalimat ini saya dapatkan dari tweet seorang penulis terkenal. Membacanya, saya jadi teringat akan seseorang. Seseorang yang selama ini telah menduakan saya -dan saya rela menjalaninya- dan lebih banyak menghabiskan waktunya bersama sang kekasih.

Lalu saya jadi berpikir. Selama ini ia selalu berusaha sekeras mungkin untuk menjadi bagian hidup kekasihnya. Ia begitu takut kehilangan kekasihnya. Namun saya baru sadar, sikapnya terhadap saya tidak pernah sekalipun menggambarkan kalau ia takut kehilangan saya. Bahkan pernah sekali ia meminta saya mencoba untuk menjadi temannya saja, ya meskipun beberapa hari setelahnya apa yang ia lakukan tidak sesuai dengan permintaannya.

Kalau sudah begini, ingin rasanya sekali saja saya menjadi orang yang sangat egois.

Leave a comment »

Terima kasih…

Sudah hampir satu tahun yang lalu sejak saya menulis di sini.

Saya akui, saya merasa kehilangan. Kehilangan dia yang meskipun berkali-kali mencoba tetap menunjukkan keinginan berteman namun tak mampu mengisi kekosongan hati saya.

Apakah hanya sebatas itu? Sebatas tali pertemanan yang bahkan tak sanggup untuk saya rajut? Saya tidak butuh teman. Saya butuh kekasih. Kekasih yang sanggup menyayangi saya seperti halnya dia menyayangi saya.

Hari itu hati saya berbunga-bunga. Dia yang sekian lama tidak menghubungi saya akhirnya mengirimkan sebuah SMS. Saya pikir dia sudah lelah dengan usahanya.

Secercah harapan kembali muncul. Harapan yang selalu ada meskipun dia belum sanggup untuk menerima cinta saya.

Rasa sayang saya kepadanya begitu besar hingga sanggup membuat saya menunggunya. Menunggu dirinya hanya untuk sekedar menyapa “Hey, apa kabar?”

Comments (1) »

Ketulusan Cinta Saya

Menunggumu terlalu melelahkan, sayang. Walaupun tidak membuang waktu saya. Walaupun beribu-ribu janji setia terucapkan. Tetap saja melelahkan diri saya.

Satu minggu. Itu yang kamu ucapkan kepada saya. Tinggal satu hari. Seharusnya saya kuat dan bertahan. Tapi justru ketika tersisa hanya satu hari. Saya memutuskan untuk menjadi lelah. Saya mundur.

Satu hari, saya memilih untuk meninggalkan kamu sebelum saya ditinggalkan.

Satu hari, saya memilih untuk membiarkan kamu bahagia meski tidak di samping saya.

Lagu ini saya berikan kepada kamu…

Apa saja yang membuatmu bahagia
Telah ku lakukan untukmu
Demi mengharapkan cintamu
Kini ku bagai menanti
Datangnya pelangi
Di malam hari yang sepi

Ku sadari yang telah ku lakukan
Membuat hatimu terpenjara
Dan tak kuasa ku membukanya
Walau seluruh dayaku ingin bersamamu
Kunci hatimu patah tak terganti

Reff :
Cinta tak harus memiliki
Tak harus menyakiti
Cintaku tak harus mati
Oh cinta
Tak harus bersama
Tak harus menyentuhmu
Membiarkan dirimu dalam bahagia
Walau tak disampingku
Itu ketulusan cintaku

Leave a comment »

Resah

“Kamu berubah sekarang…”

“Aku masih sama seperti dulu.”

“Dulu kapan?”

Honey, aku masih sama seperti dulu saat aku mengenakan cincin di jarimu.”

“Jika benar demikian… mengapa aku merasa cincin ini semakin lama semakin dingin menusuk kulit jari manisku?”

Dia terdiam.

“Jika memang kamu masih sama seperti dulu… mengapa semakin hari aku merasa kamu semakin menjauh dan semakin tak dapat kuraih?”

“Sayang, mengapa kamu selalu meragukan aku?”

“Awalnya aku percaya sama kamu… tapi kini… entahlah, aku merasa kamu semakin lalai menjaga hati yang telah kutitipkan kepadamu…”

“Kamu mau aku bagaimana?”

Saya yang kali ini terdiam. Berkali-kali dia bertanya apa yang saya mau dia lakukan untuk saya, berkali-kali juga saya tidak ingin menjawabnya. Bukan karena saya tidak punya jawabannya, tapi saya hanya ingin dia melakukan apa pun yang dia mau bukan melakukannya karena saya menginginkannya.

Honey, walaupun kita jarang berkomunikasi karena kesibukan kita masing-masing, tapi kamu harus yakin bahwa aku selalu menyayangi kamu. Jangan pernah ragukan itu. Oke, sayang?”

“Hhh… sibuk karena hati kamu terbagi? Jangan khawatir, aku tidak akan menuntut lebih dari apa yang bisa kamu berikan kepadaku.”

“Lagipula… mungkin ini saatnya bagiku untuk mundur dari kehidupan kamu…”

“Senja, jangan lakukan itu! Aku mohon… jangan pergi dari hidupku. Aku sangat membutuhkan kamu.”

Sadarkah dia saat saya mendengarkan kalimat terakhirnya, ada satu jiwa yang memberontak? Sadarkah dia banyak wanita yang rela menjadi cadangan demi mendapatkan dirinya? Sadarkah dia saat dia mengucapkannya? Sebelum saya memutuskan untuk mundur dari hidupnya, saya bahkan telah sadar bahwa dia yang telah pergi dari hidup saya, bukan saya. Dia pergi bersama setengah hati yang telah dititipkannya kepada saya, tanpa memberi saya kesempatan untuk menjaganya, selamanya.

Comments (2) »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.