Archive for February, 2009

Berbeda Dengan Caramu

Saya masih ingat saat dia berkata dia lebih suka minuman yang dingin daripada minuman hangat atau panas. Bahkan saya ingat saat pelayan kafe kopi langganannya salah memberikan pesanannya. Saya tertawa saat dia meminta pelayan itu untuk memberikan es batu ke dalam mug berisi kopi kesukaannya.

“Aku enggak suka minuman panas! Bikin lidah sakit!” Itu katanya saat saya menanyakan kenapa dia begitu repot meminta es batu.

Saya juga masih ingat betapa dia sangat menghindari minuman bersoda.

“Minuman bersoda itu bikin tulang keropos tau! Jangan banyak-banyak minum yang kayak gitu-gituan deh!”

Saya masih ingat dia selalu memesan Ice Chocolate padahal dia tidak begitu senang dengan coklat.

“Kenapa kamu pesan itu kalau kamu enggak suka coklat?”

“Aku bukan enggak suka coklat, tapi membatasi coklat karena coklat bikin migrenku kumat.”

Hhh… betapa banyak hal yang saya rindukan dari kamu. Kamu selalu tampil berbeda dari yang lain tanpa kamu sadari. Saat orang heboh dengan pakaian terbaru bermerek, kamu malah lebih sering memakai batik kesukaanmu. Dan saat batik kemudian menjadi tren, kamu malah lebih sering memakai kemeja hitam kesukaanmu.

Kamu memang berbeda… dan kamu membuat saya jatuh cinta dengan gayamu yang berbeda…

Leave a comment »

Beranikah kamu?

Kenapa kamu harus berbohong kepada saya?

Kenapa kamu harus berkata bahwa hanya ada saya di dalam hati kamu?

Kenapa kamu harus bersusah payah menjelaskan bahwa hubunganmu dengan seseorang yang selama ini dipandang oleh teman-temanmu sebagai partner kamu hanyalah hubungan yang sekedarnya?

Kenapa kamu masih selalu memberikan semangat kepada saya sekaligus menjatuhkannya?

Kenapa kamu masih selalu berusaha memberi saya segenap perhatianmu?

Beranikah kamu melepaskannya padahal kamu sesumbar tidak akan pernah melepaskannya?

Beranikah kamu?

Bukan untuk membuktikannya kepada saya, tapi kepada diri kamu sendiri, bahwa hanya ada saya dalam hati kamu…

Comments (1) »

Saya Ternyata Psikopat

Hari ini saya mampir keblognya. Dia bukan penulis walaupun saya yakin dia bisa jadi penulis hebat. Tapi entah mengapa tulisannya selalu membuat saya seolah-olah bisa membayangkan apa yang ditulisnya dengan nyata.

Dia sudah bahagia dengan partnernya. Dia sangat mencintai partnernya. Partnernya juga sangat mencintainya. Saya merasa telah menjadi orang jahat jika saya masih mengharapkan cintanya. Jahat karena dalam doa saya selalu berharap mereka akan berpisah. Jahat karena saya berharap partnernya berbuat kesalahan hingga menyakitinya dan akhirnya dia bisa kembali kepada saya setelah dia menyadari bahwa hanya saya saja yang paling baik untuk dirinya.

Picik? Saya memang picik. Sepicik keinginan saya untuk kembali mendapatkan rasa bahagia yang selalu mampu dia berikan walaupun dia tidak pernah menyadarinya.

Hujan turun dengan deras sore ini. Sederas airmata yang mengalir dipipi saya. Menyadari bahwa saya ternyata hanya seorang psikopat yang menginginkan dia tidak bahagia bersama partnernya.

Comments (2) »

Pelajaran Kecil Namun Berharga

Kembali menelusuri kota Jakarta yang macet ini membuat tensi saya sedikit meninggi saat mengendarai Swift kesayangan saya. Menghadapi para pengendara motor yang dengan seenaknya meliuk-liuk menghindari kemacetan sempat membuat syaraf tegang. Bahkan saya sempat ingin melontarkan makian kepada para pengendara motor itu, namun keinginan itu tertahan di tenggorokan dan tak sempat keluar dari mulut saya. 

Saya ingat dia. Dia dengan motor kesayangannya. Dia yang pernah mengantar saya pulang. Dia yang begitu membuat saya nyaman bahkan saat kami berdua berada di bawah siraman rintik hujan. Dia yang tidak seperti pengendara motor yang membuat saya kesal hari ini.

“Kalau kamu nyetir mobil, jangan kasar-kasar sama orang yang naik motor ya, hehehe. Apalagi kalo lewat kubangan, kamu jalannya pelan-pelan. Kasian kan kalo mereka kecipratan padahal harus ngantor.” Itu kata dia saat saya duduk di boncengan motornya. Saat itu saya hanya tertawa menanggapinya.

Tapi hari ini kata-katanya kembali terngiang-ngiang di kepala saya. Mengingatnya membuat saya lebih menghargai para pengendara motor itu. Membayangkan dia yang hampir setiap hari menelusuri jalan di Jakarta, merasa lelah, kepanasan, kehujanan, membuat saya sedih mengingatnya.

Saat saya melihat ada orang yang mendorong motornya, entah itu karena bannya kempes atau mesinnya mogok, saya miris membayangkan bagaimana jika dia mengalami hal itu. Saat saya melihat ada orang yang duduk di atas motor sambil meregangkan otot-otot pinggang dan tangannya yang pegal di persimpangan lampu merah, saya miris membayangkan lelah dan penat yang dirasakan olehnya. Saat ada orang yang menjalankan motornya menembus hujan dengan menggunakan jas hujan yang tipis, saya miris membayangkan dia kedinginan dan membuat sakit kepalanya kambuh. Saat ada orang yang menjalankan motornya dengan pelan karena berusaha menghindari cipratan air kubangan, saya miris membayangkan dia harus basah kuyup terkena cipratan dari mobil-mobil yang dengan seenaknya melaju cepat tanpa memperdulikannya.

Saya belajar banyak hal darinya. Walaupun hal-hal itu sebelumnya sepertinya remeh di mata saya, namun saya belajar bahwa hal yang remeh bagi saya belum tentu remeh bagi orang lain.

Comments (1) »

SMS Pembangkit Semangat

Hari ini mendung. Tapi tidak dengan hati saya. Hari ini saya sedang gembira. Ia membalas sms saya pagi ini. Hanya ucapan selamat pagi dan selamat menjalani hari ini dengan semangat.

Hhhm… hanya dua kalimat namun mampu membuat saya benar-benar bersemangat menghadapi hari yang mendung ini.

Gerimis pagi ini mengingatkan saya padanya…

Leave a comment »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.