Saya Ternyata Psikopat

Hari ini saya mampir keblognya. Dia bukan penulis walaupun saya yakin dia bisa jadi penulis hebat. Tapi entah mengapa tulisannya selalu membuat saya seolah-olah bisa membayangkan apa yang ditulisnya dengan nyata.

Dia sudah bahagia dengan partnernya. Dia sangat mencintai partnernya. Partnernya juga sangat mencintainya. Saya merasa telah menjadi orang jahat jika saya masih mengharapkan cintanya. Jahat karena dalam doa saya selalu berharap mereka akan berpisah. Jahat karena saya berharap partnernya berbuat kesalahan hingga menyakitinya dan akhirnya dia bisa kembali kepada saya setelah dia menyadari bahwa hanya saya saja yang paling baik untuk dirinya.

Picik? Saya memang picik. Sepicik keinginan saya untuk kembali mendapatkan rasa bahagia yang selalu mampu dia berikan walaupun dia tidak pernah menyadarinya.

Hujan turun dengan deras sore ini. Sederas airmata yang mengalir dipipi saya. Menyadari bahwa saya ternyata hanya seorang psikopat yang menginginkan dia tidak bahagia bersama partnernya.

2 Responses so far »

  1. 1

    lonelittle said,

    itu bukan psikopat kok. itu manusiawi. yah, mencintai sepenuh hati memang menyakitkan kan? mungkin itu yang lagi km alami. aduh gue sotoy :(

  2. 2

    azie said,

    cinta memang egois…
    tanpa egois, cinta gak akan pernah ‘ada’
    ……
    Biarlah hujan mengalir deras sore itu. Aku yakin pagi pasti cerah lagi.
    :p


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.