Saya tidak berani dengan jujur menunjukkan siapa yang saya puja. Tidak seperti sebuah blog yang saya baca. Di sana dengan jelas tertera nama sang pujaan hati. Tapi dia pasti tahu bahwa saya sangat memujanya. Memujanya hingga hati saya menjadi setengah gila.
Dia satu-satunya wanita yang menjadi oksigen saya. Satu-satunya wanita yang menjadi darah saya. Saya sangat mencintai dan menyayanginya.
Dia sedang tenang dan bahagia di sisi kekasihnya tercinta. Kekasihnya yang membuat saya ingin datang menghampirinya dan menghunuskan pisau belati ini hingga hanya kepada saya lah dia kembali.
azie said,
June 26, 2009 @ 1:34 pm
memuja, menjadi salah satu bagian dari energi kita.
memujanya, untuk selalu melihat kebahagiaannya.
hanya memujanya, tanpa diketahuinya.
karena, bila kita sudah memilikinya.
Energi itu akan berbeda ketika kita memujanya, pasti menyakitkan